Wednesday, March 17, 2010

Calculator!


Sekadar gambar hiasan

Alangkah indahnya hidup, jika hidup itu persis calculator.Sesuatu alat yang digunakan untuk menyimpan data pada awalnya, dan terus digunakan untuk berfungsi sebagai alat mengira.Dan terus menerus berevolusi.

Di awal permulaannya, calculator hanyalah berfungsi sebagai alat penyimpan data, yang dinamakan "abathia" atau "Abacus". Dan fungsinya menjadi lebih hebat, bila mana sang pengguna mengaplikasikan kaedah kira-kira dengan kombinasi simpanan data pada alat tersebut. Bertahun lamanya..dan akhirnya, aplikasi abacus terus dikembangkan..kepada arithnometer lalu berevolusi kepada "type writter" dan seterusnya kepada komputer.

Semakin hari, semakin canggih. Pada awalnya ia hanyalah sejenis alat yang diperbuat daripada kayu. Namun, pada hari ini, alat ini diperbuat dari pelbagai kombinasi bahan seperti besi, emas, plastik dan sebagainya. Dan aplikasinya pula dinaik taraf sedikit demi sedikit.Dari penyimpanan data 1 digit kepada berpuluh-puluh digit.Dari 125K REM, dinait taraf ke 3GHz kelajuannya. Dari tidak ada kipas, kepada ada kipas. Dari tidak ada lampu "lap lip lap" kepada ada lampu "lap lip lap".Di luar jangkaan minda. Namun, asas kepada aplikasinya tidak pernah sesekali berubah. Tetap dengan nilai asasnya, yakni menyimpan data.Dan berevolusi kepada pelbagai aplikasi penggunaan. Boleh digunakan untuk bermain permainan maya, berkomunikasi, membuat kerja, dan banyak lagi perkara yang diluar jangkaan minda kita. Sehingga begitu hebatnya evolusi teknologi sekarang yang tetap berpegang pada satu prinsip.

Namun,dunia moden ini, menampakkan cabaran arus globalisasi banyak telah memudarkan daya intelektual manusia. Prinsip terhakis, maruah tergadai. Asas pemikiran terus berubah. Dari berpegang pada agama, terus berbolak balik. Atas revolusikah atau ilusi? Atas Prinsip atau nafsu? Perjuangan yang dibawa, mula dipaksikan pada senario semasa. Kalau atas nama semangat, terus diterjahkan SEMANGAT! Kalau senario berubah kepada duit, terus diterjahkan "DUIT"! Apa jenis Perjuangankah ini? Tidakkah kita mempelajari dari teknolgi?Yang menekankan nilai ketulenan dalam berevolusi! ASAS ITU ADALAH PALING PENTING UNTUK DIKEKALKAN! BUKANNYA YANG ASAS ITU DIPERGADAI, DIJUAL BELI!

Asas kepada perjuangan adalah Asas Aqidah. Namun kerana cabaran globalisasi dan massa, Perjuangan telah berevolusi.Ini tidak bererti asas perjuangan pun turut perlu untuk di evolusikan kepada pelbagai jenis wajah. Contoh mudah,kalau asal perjuangannya adalah ISLAM, perlukah ia ditukarkan kepada libralisma? Kononnya untuk meraih pengundi. Sedangkan iinilah yang merosak rencana perjuangan. Memusnahkan ketulenan dalam dasar perjuangan.

Che Guevara, seorang Sosialis Kanan yang terkenal dengan gerakan guerilla bawah tanahnya, tidak pernah sesekali menukar corak pemikiran perjuangan, namun perjuangannya tetap berevolusi, daripada corak yang lembut kepada corak yang radikal. Namun tetap menekankan pemikiran Sosialis.

Namun, sebagai seorang Islam, benar kita perlu berevolusi. Namun, evolusi kita perlulah pada asas. Yakni Al Quran dan As Sunnah.

Manusia itu diciptakan Tuhan dengan dua tujuan pokok:

Yang pertamanya adalah untuk mengabdikan dirinya hanya kepada Allah SWT. iaitu dengan berpegang teguh kepada:-

Tauhid Uluhiah (Tauhid Ibadah)

Menyembah, beribadat, meminta perlindungan dan kebahagiaan hanya kepada Allah SWT. yang merupakan kedaulatan mutlak (Absolute Sovereignty), dan tidak bersekutu denganNya. [“Dan Dia-lah Tuhan (yang disembah) di langit dan Tuhan (yang disembah) di bumi” (43:84)]

Tiada Tuhan selain Dia; bukan dewa-dewi, para malaikat, bukit-bukau, gunung-ganang, matahari bulan dan bintang, wang ringgit, segala isme-isme ideologi politik dan ekonomi ciptaan manusia, malah bukan juga pemerintah; tetapi Dia Allah yang hanya satu, yang Maha-Esa.

Tauhid Asma’ Wa Sifaat (Tauhid Nama dan Sifat)

Allah memiliki segala sifat dan nama yang sempurna dan terhindar daripada-Nya segala sifat yang tidak layak bagi-Nya.

Dengan pengetahuan dan penghayatan secara mendalam tentang sifat-sifat Allah SWT., manusia akan dapat membersihkan jiwa, roh, kepercayaan, moral dan tindak tanduknya; yang mana akan membawa kepada pembentukan keperibadian manusia yang mulia.

Tauhid Rububiah (Tauhid Perbuatan Allah)

Allah sahaja yang menciptakan alam ini, Allah yang menurunkan rezeki dan hujan, Allah yang memelihara dan mengatur seluruh alam, Allah yang menghidupkan dan mematikan. [“Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya” (25:2)]

Oleh kerana Allah adalah pencipta Alam Semesta termasuk manusia, maka Dialah yang paling mengetahui hakikat makhluknya. Oleh yang demikian, hukum-hukum dan peraturan-peraturan Allah jualah yang merupakan hukum yang paling baik, yang paling sesuai untuk makhluknya. Itulah dia Tauhid Hakimiah yang merupakan lanjutan daripada Tauhid Rububiah tadi. [“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah, Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik” (6:57)]

Justeru itu, adalah sangat tidak wajar manusia itu melaksanakan hukum-hukum dan undang-undang ciptaan manusia sendiri (undang-undang Thaghut) selain daripada Syariat (hukum-hukum dan peraturan- peraturan) yang telah ditetapkan Allah SWT. melalui Rasul-RasulNya. Tidakkah tindakan ini diumpamakan penyembahan patung atau berhala yang diciptakan oleh tangan kita sendiri? [“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” (5:44)]

Keduanya adalah manusia sebagai Khalifah Allah (Pengganti Allah) di muka bumi ini:-

Untuk memerdekakan manusia daripada segala ikatan dan halangan untuk beribadah hanya kepada Allah SWT., atau dalam ertikata lain untuk mengembalikan manusia kepada Fitrah Semulajadinya. Itulah dia Hak Asasi Manusia yang sejatinya. [“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita, maupun anak-anak yang semuanya berdoa: {Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau}” (4:75)].

Ikatan dan halangan untuk manusia beribadah hanya kepada Allah SWT. itu terbahagi secara kasarnya kepada beberapa sumber di antaranya:

Kepada Diri sendiri

kejahilan tentang Ilmu Tauhid samaada ia merupakan Tauhid Uluhiah, Tauhid Asma’ Wa Sifaat, maupun Tauhid Rububiah/Tauhid Hukumiah, lemah jiwa dan raga dipermainkan oleh godaan syaitan

Kepada Sosio-Ekonomi

Manusia itu dalam belenggu kemelaratan dan kesengsaraan hidup, terpaksa mencari nafkah siang dan malam untuk keluarga dan dirinya sehingga tidak mempunyai masa yang selesa untuk beribadah kepada Allah SWT.

kepada Sosio-Politik

Dengan penguatkuasaan pemerintah Taghut, manusia terpaksa mengikuti hukum-hukum dan peraturan-peraturan yang diciptakan oleh manusia selain daripada hukum-hukum dan peraturan-peraturan Allah SWT. Hukum-hukum dan peraturan-peraturan Taghut ciptaan manusia itu memang diciptakan untuk kepentingan yang menciptakannya atau yang memerintahnya, bukan untuk kepentingan manusia sejagat baik yang berupa jasmaniah mahupun rohaniahnya.

Untuk mengatur dan menggunapakai segala isi bumi ini bagi kemudahan dan kesenangan manusia itu sendiri.

Manusia itu zalim terhadap dirinya sendiri kerana kufur terhadap nikmat yang telah diberi Tuhan [14:34]. Manusia selalunya abai untuk menyelidiki ilmu yang telah diberikan Tuhan, ilmu yang berbentuk sunnatullah (Laws of Nature) dan merumuskan ilmu-ilmu itu serta menghayatinya sebagai pembangunan sains dan teknologi demi untuk kemudahan dan kesenangan manusia sejagat.

Manusia apabila dapat memenuhi Hak Asasinya atau dapat memerdekakan dirinya daripada segala cengkaman ikatan dan halangan untuk beribadah hanya kepada Allah SWT. di samping dapat mengeksploitasikan isi bumi ini dengan paling baik untuk kemudahan dan kesenangan hidup manusia sejagat, itulah apa yang dinamakan Tamaddun Sejati dan itulah Kejayaan Mutlak – FALAH.

Rujukan:
1- http://en.wikipedia.org/wiki/Che_Guevara
2- http://en.wikipedia.org/wiki/Calculator
3- http://smartmujahid99.blogspot.com/2009/07/ukhuwwah-dan-perjuangan.html
4- http://inijalanku.wordpress.com/2010/03/08/fard-muslim-asas-binaan-tamaddun-islam/
5- http://home.hamidarshat.com/IFDPAmir.htm
6- Mengapa aku menganut Islam(Maza ya'ni intima' lil Islam)- Fathi Yakan
7-http://ms.wikipedia.org/wiki/Aqidah
8-Ohan Sudjana, Fenomena Aqidah Islamiyah Berdasarkan Quran dan Sunnah, Media Dakwah 1414/1994
9-http://www.salafipublications.com/sps/sp.cfm?subsecID=AQD04&articleID=AQD040003&articlePages=1
10- Sharh aqidah at-Tahaawiyyah of Shaykh Saalih Aal ash-Shaykh
11- Dhamm ul-Kalaam of Abu Ismaa'eel al-Harawi

Saturday, March 6, 2010

Tasawuf Musik



Salah satu ajaran tasawuf yang paling penting adalah penyucian jiwa. Penyucian jiwa itu ada kalanya dilakukan para sufi dengan as-samā‘, yaitu mendengarkan musik yang indah sebagai alat purifikasi.1 Musik adalah sarana penyucian jiwa dan pengenalan unsur rohani dari diri seseorang. Musik tidak hanya menyentuh, tetapi meresap dan merasuk jiwa dan hati pendengarnya. Menurut Ihwān as-Şāfa,2 kelompok penulis abad sepuluh dan sebelas, jiwa manusia akan terangkat tinggi menjulang ke alam rūhani ketika ia mendengar melodi indah.3

Musik merupakan kesenian yang keindahannya dapat dinikmati melalui indera pendengaran dan telah ada sejak zaman sebelum datangnya Islam. Di Arab, musik dinikmati dengan berbagai macam cara, sesuai dengan suasana hati para penikmatnya. Tetapi pada saat itu, mayoritas musik digunakan untuk bersenang-senang dan hura-hura. Di tempat pertunjukan musik, mereka menari-nari dalam keadaan mabuk menikmati lagu-lagu yang dilantunkan oleh para pemusik yang kesemuanya adalah wanita hamba sahaya. Tidak ada pemusik laki-laki atau orang merdeka, karena bagi mereka menjadi pemusik dianggap sebagai aib bagi orang merdeka dan kaum laki-laki.4




Dalam sejarah peradaban manusia, belum ditemukan suatu kaum yang meninggalkan musik.5 Musik berkembang sejalan dengan perkembangan zaman dan peradaban manusia. Musik adalah perilaku sosial yang kompleks dan universal. Musik dimiliki oleh setiap masyarakat, dan setiap anggota masyarakat adalah “musikal”.6

Saat ini, perkembangan musik secara umum sangat pesat dan sangat manggiurkan generasi muda. Banyak sekali bermunculan aliran musik yang berbeda-beda; rock, heavy metal, reggae, jazz, pop, hip metal, hip hop, R&B dan lain-lain. Musik semacam ini ada juga yang syairnya bertema kriminal, pemujaan terhadap obat-obatan terlarang, kebebasan seksual, serta pengkultusan perilaku bunuh diri dan keputus-asaan. Ada pula yang secara terang-terangan memproklamirkan anti Tuhan.7

Musik juga telah menjadi sebuah industri untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi. Seperti yang terjadi di Barat yang telah memiliki pasar di dunia internasional. Musik kembali menjadi sesuatu yang identik dengan perbuaatan-perbuatan yang dilakukan oleh masyarakat jahīliyah. Sekarang tidak sulit menemukan sajian musik yang digunakan untuk menari erotis, melupakan norma-norma masyarakat dan hanya menuruti hawa nafsu.
Penelitian yang dilakukan terhadap permainan musik oleh 208 orang musisi profesional pada tiga buah orkestra membuktikan bahwa musik zaman sekarang memiliki pengaruh buruk atas kesehatan pemain. Gejala sindrom tersebut terjadi karena musik modern yang dimainkan bertentangan dengan pakem musik yang pernah mereka pelajari. Musik zaman sekarang janggal -3 di telinga dan sering menimbulkan kegelisahan, kemarahan, sakit kepala, sering murung dan lain-lain -8

Agama sebagai salah satu tanda perkembangan peradaban manusia, memiliki hubungan yang nyata dengan musik. Dalam agama Kristen, musik dikenal sebagai salah satu bagian penting untuk melaksanakan ritual-ritual keagamaan. John Chrysostom, seorang pemuka agama Kristen yang hidup pada abad keempat setelah masehi mengatakan: “Tiada sesuatu, selain aransemen musik dan nyanyian agama, yang dapat meninggikan derajat akal, memberinya sayap untuk meninggalkan bumi dan melepaskannya dari belenggu jasmani serta menghiasinya dengan rasa cinta kepada kearifan.9

Penganut agama Hindu di India meyakini bahwa awal kehidupan adalah rūh, dengan itu maka ilmu pengetahuan, kesenian (termasuk musik), filsafat dan kebatinan diarahkan untuk satu tujuan yang sama, yaitu kehidupan spiritual. Musik Kuno India, merupakan salah satu budaya yang diwariskan secara turun temurun oleh pemeluk agama Hindu.10
Perjalanan sejarah kebudayaan Islam mengantarkan perkembangan musik ke arah musik yang bercorak Islam. Perkembangan musik dalam budaya Islam sendiri juga beragam. Ada musik yang disebut musik sufi, ada musik yang biasa ditampilkan untuk hadirin di sebuah pengajian atau majelis ta‘līm, ada juga musik “Islami” yang menembus dunia industri, seperti kelompok nasyid Snada, Raihan dan lain-lain.11

Dari deskripsi singkat di atas, dapat disimpulkan bahwa musik dapat digunakan manusia untuk berbagai macam tujuan. Dari tujuan untuk mendekatkan manusia kepada Tuhan, sekedar hiburan, untuk mencari uang, bahkan ada juga orang menggunakan musik untuk pemenuhan hawa nafsu

Para pemain musik itu dibagi dalam tiga kelompok orkestra yang berbeda. Satu orkrstra menyanyikan lagu klasik, satu orkestra menyanyikan lagu modern, dan satu orkestra lagi menyanyikan lagu campuran. Kesimpulan dari eksperimen itu adalah bahwa pemain pada orkestra yang menyanyikan lagu modern yang mengalami permasalahan kesehatan. Djohan, Psikologi…, hlm. 107


yang menyebabkan manusia lupa akan dirinya sebagai makhluk Tuhan. Hal inilah yang mengundang permasalahan dalam masyarakat muslim masa kini. Permasalahan ini diawali dengan pertanyaan ; “bagaimanakah hukum musik menurut Islam ?”.12
Pertanyaan itu menimbulkan sikap yang berbeda-beda dari orang Islam. Sebagian membuka telinganya lebar-lebar terhadap setiap lagu dan warna musik, dengan alasan bahwa mendengar musik itu sesuatu yang indah dan baik bagi hamba Allah dan Allah membolehkannya. Sebagian lagi menutup telinganya dengan rapat setiap mendengar musik, karena menurut mereka musik atau lagu adalah seruling setan dan menghalangi manusia berżikir kepada Allah dan mengerjakan shalat. Apalagi yang didengar itu adalah suara perempuan, karena suara perempuan dengan tidak menyanyi saja adalah aurat. Merekapun mengeluarkan dalil-dalil dari ayat-ayat al-Qur’an, hadiś-hadiś dan pendapat ulama’ untuk memperkuat pendapat mereka. Bahkan sebagian dari mereka juga ada yang mengharamkan segala bentuk musik, meskipun musik itu hanya sekedar ilustrasi siaran berita di televisi. Ada juga kelompok muslim yang ragu untuk menentukan hukum musik. Mereka hanya mengikuti salah satu pendapat sesuai kebutuhan mereka, sehingga mereka selalu berubah-ubah pandangan terhadap hukum musik dan lagu.13

Banyak dari ahli fiqih yang mengharamkan musik mempertimbangkan dampak negatif yang ditimbulkan oleh musik sebagai alasan keharamannya. Mereka menyebut kebiasaan-kebiasaan jelek yang biasa diringi musik, dan musik lebih memiliki keburukan daripada kebaikannya, jadi musik itu jelek. Mereka juga menambahkan, bahwa sya’ir dan musik dapat mengurangi gairah jiwa untuk melakukan tugas-tugas keagamaan, bahkan bisa mendorong manusia untuk mencari kepuasan-kepuasan di luar Islam, misalnya mabuk-mabukan dengan minuman keras.14



Menurut Ibn al-Jauzi ( 510 H/1116 M - 597 H/1200M ), seorang ahli fiqih Hanbali, bahwa musik itu memiliki dua akibat yang sangat jelek, pertama, menjadikan hati jauh dari pancaran cahaya Allah dan rahmat-Nya, kedua, mendorong manusia untuk terperdaya oleh kebahagiaan semu dan duniawi. Hal ini beralasan karena orang yang sangat asyik menikmati musik dapat mengakibatkan perbuatan seperti orang mabuk, menggeleng-gelengkan kepala, bertepuk tangan, menginjak-injakkan kaki ke tanah, dan gerakan-gerakan yang biasa dilakukan orang mabuk lainnya. Maka Ibn al-Jauzi menyamakan hukum musik dengan minuman keras, yaitu haram.15

Ibn al-Qayyim al-Jauziyah,16adalah salah satu ulama’ yang menentang keras penggunaan musik dan tidak hanya mengharamkan musik yang biasa digunakan oleh orang zindiq17, tetapi ia juga mengharamkan musik yang digunakan oleh para sufi (as-samā‘). Dalam kitabnya Igāśatu Lahfān min Maqāyidi Syaiţan, ia menentang as-samā‘ dengan alasan agar para sufi tidak memasukkan sesuatu yang tidak dibenarkan oleh Allah dan Rasul-Nya ke dalam agama Islam.18


Lebih tegas lagi Ibn al-Qayyim menyatakan :
”Dan dari sebagian tipu daya musuh-musuh Allah yang memperdaya orang yang sedikit ilmunya, akal dan agamanya, dan juga mengalahkan hati orang-orang yang bodoh, adalah nyanyian dengan siulan dan tepukan tangan, juga nyanyian dengan alat-alat yang diharamkan yang menghalangi hati dari al-Qur’an dan menjadikannya bergelimang dengan dosa dan kemaksiatan, nyanyian itu adalah qur’annya setan dan penghalang kuat antara manusia dengan Allah Yang Maha Pengasih”.


Ditambahkannya lagi, bahwa nyanyian adalah jimat bagi orang yang melakukan liwaţ (homo seksual) dan zīna, dan dengan nyanyian itu setan membisikkan pada jiwa mereka penyerupaan yang batil seakan kelihatan bagus sehingga manusia itu menerima bisikannya dan menjadikan al-Qur’an jauh.19


Akan tetapi, pendapat Ibn al-Qayyim itu mendapat bantahan dari para penggemar musik sufi dengan menyatakan bahwa para auliyā’ dan şālihīn telah mendatangi tempat nyanyian tersebut. Dan Ibn al-Qayyim pun menanggapi dengan mengatakan dalam kitabnya : “Apabila beralasan bahwa tempat nyanyian ini dihadiri pula oleh para şālihīn yang tidak diragukan lagi ketinggian derajatnya, seperti al-Junaid dan sahabat-sahabatnya asy-Syibli, Yūsuf Ibn Husain ar-Rāzi dan yang sebelumnya seperti Żu an-Nūn al-Mişri dan yang lainnya, bagaimana mungkin kamu menyalahkan dan mengingkari mereka?.” 20
Kemudian Ibn al-Qayyim menjelaskan ulang pendapatnya tentang musik yang dihadiri para şālihīn itu secara luas dan rinci. Ia menambahkan penjelasan-penjelasan supaya umat Islam lebih berhati-hati dan lebih mempertimbangkan akibat buruk yang dapat di timbulkan oleh musik.
Pendapat mengenai keharaman musik juga pernah diutarakan oleh Ibn Taimiyah, al-Qurtūbi dan ulama’ fiqih lainnya, dan dikuatkan lagi dengan argumentasi bahwa sahabat Uśman ibn ‘Affān, Abdullah ibn Ummār, Anas ibn Mālik, dan juga beberapa tābi’īn, yaitu Sa’īd ibn al-Musayyāb, al-Qāsim ibn Muhammad dan Qatādah, tidak berkenan mendengarkan musik.21


Namun demikian, para ulama’ yang mempertahankan kehalalan musik juga sangat banyak sekali, di antaranya adalah para filosof Islam dan para tokoh spiritual Islam. Al-Kindi22 (filosof Islam abad 9), merupakan seorang pemikir yang pertama kali memiliki perhatian khusus mengenai musik. Ia menggunakan musik tidak hanya sebagai hiburan tetapi juga sebagi obat untuk penyakit jiwa dan raga. Al-Farābi23 (filosof Islam abad ke 10), pernah membuat buku tentang teori musiknya yang berjudul Kitāb al-Musīqa al-Kabīr. Ibn Sina24 (filosof Islam abad ke 11), dalam dua buah bukunya, yaitu asy-Syifā’ dan an-Najdāt, menulis satu bab khusus yang membicarakan tentang musik. Kemudian Ibn Bajjah25(filosof Islam abad ke 12), seorang filosof Islam dari Andalusia, pernah mengarang sebuah buku tentang musik yang juga diberi judul Kitab al-Musīqa, yang menurut sejarah buku ini sangat terkenal di Barat sebagaimana Kitab al-Musīqa karangan al-Farabi yang terkenal di Timur. Sedangkan para ulama’ sufi yang membahas musik dan menggunakannya antara lain: Abū Naşr as-Sarāj, Abd al-Kārim Ibn Hawāzīn, al-Qusyairi, al-Hujwīri, Abū Hāmid al-Gazāli, Ahmād al-Gazāli, Jalāl ad-Dīn Rūmi dan masih banyak lagi.26

Ini merupakan bukti, bahwa tidak ada kaum yang meninggalkan musik di dunia, sebagaimana yang disebutkan diatas, juga karena musik (yang diracik sedemikian rupa) merupakan kesenian yang memiliki pengaruh yang luar biasa dalam perkembangan kehidupan spiritual manusia. Untuk itu maka para sufi menggunakan musik, sebagai salah satu kreatifitas seni masyarakat yang setiap kaum di dunia ini mengenalnya, untuk menyucikan jiwa. Bahkan al-Gazāli menyebut orang yang tidak normal, kurang akal dan jauh dari rohani kepada orang yang hatinya tidak tergerak oleh keindahan musik yang dikembangkan oleh para sufi (as-samā‘).


Tokoh spiritual Islam masa lalu menggunakan musik untuk memunculkan keseimbangan dalam hidup setelah aktifitas keseharian mereka. Bagi para sufi kesenian ini adalah kesenian paling suci; dengan bantuan musik mereka bermeditasi, dengan memainkan musik tertentu yang memberikan efek tertentu bagi perkembangan individu. Penyair besar dari Persia yang bernama Jalāl ad-Dīn Rūmi,28 biasa menggunakan musik untuk meditasinya. Dengan bantuan musik dia menenangkan diri dan mengendalikan aktifitas tubuh dan pikiran.-29

Sufi sangat mencintai musik, mereka menganggap musik adalah makanan rūh. Para sufi menggunakan musik bukan untuk kesenangan, tapi pemurnian, do’a kepada Tuhan. Sebuah tarekat terbesar di India, yaitu Tarekat Sufi Chistiyah, bahkan kini ajarannya sudah sampai ke Rusia, menggunakan musik sebagai cara utama untuk pemurnian (penyucian jiwa).-30

Al-Gazāli, seorang pemikir Islam yang memiliki kekhasan dalam pemikirannya karena ia berhasil menyajikan dua hal pemikirannya, yaitu dunia mistik dan teologis dalam konteksnya dengan mempertahankan konsep sufi,31membicarakan musik (as-samā‘) secara rinci dan menyeluruh dalam salah satu bab dari sebuah buku karya besarnya; Ihyā’ ‘Ulūm ad-Dīn. Al-Gazāli, Hujjah al-Islam, adalah seorang pribadi besar yang sukar ditemukan bandingannya, yang telah menjadi nikmat Allah ke dalam kaum muslimin yang sedang mengalami keragu-raguan dalam mengalami pertumbuhan zaman. Hingga seorang peneliti Protestant bernama Dr. Zwemmer, menganggap al-Gazāli adalah salah seorang penyempurna agama Islam setelah Rasulullah saw karena kehebatan al-Gazāli dalam menguraikan ajaran agama, selain Imam Bukhari sebagai pengumpul hadiś nabi.32 Dan jika masih ada nabi setelah Rasulullah saw. Al-Gazāli-lah orangnya.33


Kajian-kajian al-Gazāli membentang luas dari persoalan fisik hingga metafisik; kajian-kajian eksoteris (syari’ah) hingga kajian-kajian esoteris (tasawuf). Ia membahas secara menyeluruh pesoalan-persoalan fiqih, ushul fiqih, logika, pengobatan, psikologi, pendidikan, sosial ekonomi, politik, etika, filsafat, metafisika, teologi, eskatologi, dan tasawuf. Meski berbagai atribut disandangnya; teolog, filosof dan lain-lain, namun pada dasarnya ia adalah seorang sufi sejati.34
Sebagai seorang sufi sejati, ia menolak pendapat-pendapat yang mengharamkan musik sebagai alat penyucian jiwa. Dalam Ihyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, ia menjelaskan pemikiranya tentang as-samā‘ secara luas dalam satu bab khusus yaitu kitāb adāb as-samā‘ wa al-wajd.


Pada awal penjelasannya mengenai as-samā‘, ia menunjukkan keunikan indera pendengaran bagi kepentingan spiritual manusia. Sehingga dalam karya besarnya itu wajib diuraikan pula mengenai as-samā‘ dan kesan as-samā‘ dalam hati (dalam istilah sufi kesan as-samā‘ adalah wajd/ekstase dan akan dijelaskan lebih lanjut pada bab berikutnya). Juga segala yang berkaitan tentang akibat baik atau buruk yang ditimbulkan, cara-cara dan adab melakukannya dan pengaruh perselisihan ulama’ terhadap perkembangan as-samā‘.35


Mengingat pengaruh pemikiran al-Gazāli yang tidak hanya terhadap perkembangan pemikiran Islam tetapi juga terhadap pemikiran mistisisme Barat yang ditunjukkan dengan aliran pemikiran mistis Kristen Dominicus dan Franciscus36 yang sangat dipengaruhi pemikiran al-Gazāli sang sufi sejati,maka pemikirannya mengenai as-samā‘ merupakan salah satu bahasan penting dalam kajian pemikiran mistis dan spiritualitas Islam.


RUJUKAN:

1 Abdul Muhaya, Bersufi Melalui Musik, Sebuah Pembelaan Musik Sufi Oleh Ahmad Al-Gazāli, (Yogyakarta: Gama Media, 2003), hlm. 2
2 Ihwan as-Safa adalah sekelompok masyarakat rahasia (terasing) dibentuk di Basrah Irak, oleh Zaid ibn Rifa’ah dengan membentuk forum diskusi dan pengajaran. Kelompok ini memiliki sebuah karya besar yang disebut dengan Rasā’il Ihwān as-Şāfa (persepakatan Ihwan as-Şāfa) merupakan ensiklopedi filsafat, teologi, metafisika, kosmologi, juga ilmu-ilmu alam. Cyril Glasse, “Ihwan as-Safa” dalam Cyril Glasse, Ensiklopedi Islam Ringkas, terj. Ghufron A Masudi, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), hlm.161
3 Alwi Shihab, Islam Inklusif, (Bandung: Mizan, 1999), hlm. 234
4 Yusuf Al-Qardhawy, Nasyid Versus Musik Jahiliyah, terj. H. Ahmad Fulex Bisri, H. Awan Sumarna, H Anwar Mustafa, (Bandung: Mujahid Press, 2003), hlm. 9-10
5 Ibid.
6 Dalam budaya Barat terdapat perbedaan tajam antara siapa yamg memproduksi musik dan siapa yang secara mayoritas mengkonsumsi musik. Dan kenyataannya semua golongan mayoritas dapat mengkonsumsi musik, mendengar, menarikan dan mengembangkannya. Kemudian ada kesan bahwa mayoritas diam merupakan masyarakat musikal dalam kapasitas memahami musik. Djohan, Psikologi Musik, (Yogyakarta: Buku Baik, 2003), hlm. 7-8
7 Alwi Shihab, Islam…, hlm. 234
9 Alwi Shihab, Islam…, hlm. 234.
10 Inayat Khan, Dimensi Mistik Musik dan Bunyi, terj. Subagijono, Fungki Kusnaendi Timur, (Yogyakarta: Pustaka Sufi, 2002), hlm. 67
11 Abdul Muhaya, Bersufi Melalui…, hlm. 12
12 Yusuf al-Qardhawi, Islam dan Seni, terj. Zuhairi Misrawi, (Bandung: Pustaka Hidayah, 2000), hlm. 39
13 Ibid, hlm. 40-41
14 Abdul Muhaya, Bersufi Melalui…, hlm. 3
15 Abdul Muhaya, Bersufi Melalui…, hlm. 4
16 Ibn al-Qayyim al-Jauziyah mamiliki nama asli Sams ad-Din Abū Abd Allah Muhammad Ibn Abi Bakr, lahir di Damaskus tahun 691H/1292 dan wafat pada tahun 751 H/1350 M. Ia sangat dekat dengan gurunya; Ibn Taimiyah, dan juga sangat gigih dalam menyebarkan Ilmu yang diperolah dari gurunya itu. “Ibn al-Qayyim al-Jawziyah” dalam Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ensiklopedi Islam Indonesia, (Jakarta: Djambatan, 1992), hlm. 374-375. Juga “Ibn al-Kaiyim al-Djawziya”dalam : HAR. Gib dan JH. Kramers (ed.), Shorter Encyclopedia Of Islam, (Leiden: EJ. Brill, 1974), hlm 149
17 Zindiq, berasal dari bahasa Persia yang diadopsi menjadi bahasa Arab. Di persia, zindiq diartikan “orang yang melanggar agama resmi negara”, namun setelah menjadi bahasa Arab dan dijadikan istilah dalam agama Islam arti zindiq mengalami perkembangan. Pada awalnya untuk menunjuk agama Manu, kemudian berkembang menjadi orang-orang materialisme dan ateisme setelah pemikiran Hellenisme memasuki dunia pemikiran Islam. “Zindiq” dalam Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ensiklopedi Islam..., hlm. 1010
18 Yusuf al-Qardhawy, Nasyid Versus..., hlm. 51
19 Ibid., hlm. 52
20 Ibid., hlm. 56-57
21 Abdul Muhaya, Bersufi Melalui…, hlm. 5
22 Abū Yusuf Ya’kub Ibn Ishak al-Kindi (w th 256 H./870 M.) Tokoh filosof muslim pertama, dan karyannya banyak diterjemahkan ke bahasa Latin. Cyril Glasse, “Al-Kindi” dalam Cyril Glasse, Ensiklopedi Islam…, hlm. 217
23 Abū Naşr Muhammad Ibn Tarkhān al-Farabi (257-339 H./870-950 M.), di Eropa dikenal dengan nama al-Farabius dan Avennaser, dan menerima gelar sebagai “guru kedua” setelah Aristoteles. Ia berusaha menggAbūngkan doktrin Plato dan Aristoteles dalam sebuah pemikiran filsafat. Cyril Glasse, ”Al-Farabi” dalam Ibid., hlm. 86
24 Ibn Sina (370-429 H./980-1037 M.) lahir di Bukhara Irak, ayahnya berasal dari Persia dan ibunya berasal dari Turki. Usia 10 tahun sudah hafal al-Qur’an dan dikenal sebagai folosof, dan ahli fisika, dan karya terbesarnya adalah kajian mengenai ilmu kedokteran (al-Qonun fi at-Ţibb). Cyril Glasse, “Ibn Sina”dalam Ibid., hlm. 153
25 Ibn Bajjah (500-533 H,/1106-1138 M.) di Eropa dikenal dengan nama Avempace. Ia menulis komentar tentang Aristoteles dan juga terkenal sebagai ahli fisika. Cyril Glasse, “Ibn Bajjah” dalam Ibid., hlm. 146
26 Abdul Muhaya, Bersufi Melalui…, hlm. 7-10
27 Al-Gazāli, Mutiara Ihya’ ‘Ulum ad-Din, terj. Irwan Kurniawan, (Bandung: Mizan, 2002), hlm. 172
28 Jalāl ad-Dīn Rūmi lahir di Balkh (kini Afganistan) tahun 604 H/1207 M dan meninggal di Konya pada tahun 672 H/1273 M. “Djalal ad-Din Rumi” dalam HAR. Gib dan JH. Kramers (ed.), Shorter Encyclopedia…, hlm. 83
29 Inayat Khan, Dimensi Mistik..., hlm. 65
30 Ibid., 70-71
31 Idries Shah, Mahkota Sufi, terj. M. Hidayatullah dan Roudlon S.Ag., (Surabaya: Risalah Gusti, 2000), hlm. 197
32 Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), Tasawuf, Perkembangan dan Pemurniannya, (Jakarta, Pustaka Panji Mas, 1994), hlm. 120
33 “Pengantar Penerbit” dalam Al-Gazāli, Samudera Pemikiran Al-Gazāli, terj. Kamran As’ad Irsyadi, (Yogyakarta: Pustaka Sufi, 2002), hlm. xi
34 Ibid.
35 Al-Gazāli, Ihya’ ‘Ulum ad-Din, (Libanon: Dar al-Ma’rifah, tt.), Juz II, hlm. 268.
36 “Pengantar Penerbit” dalam Al-Gazāli, Samudera Pemikiran…, hlm. xi

Tuesday, December 29, 2009

Hadith mengenai Wanita

Hadis Aisyah r.a katanya: Sebelas orang wanita telah bersepakat dan berjanji untuk menceritakan perihal suami mereka. Wanita pertama berkata: Suamiku seperti daging unta yang busuk yang berada di puncak bukit yang tinggi yang tidak dapat untuk didaki. Beliau tidak berlemak dan mudah untuk bergerak. Wanita kedua berkata: Aku tidak boleh menceritakan mengenai suamiku. Aku takut dan aku tidak boleh memberitahu mengenainya. Sekiranya aku memberitahu mengenainya, bermakna aku membuka aibnya. Wanita ketiga berkata: Suamiku telah membuat syarat, sekiranya aku bercerita, aku akan diceraikan dan sekiranya aku diam, aku akan dikasihi. Wanita ke empat berkata: Suamiku seperti cuaca di Negeri Tihamah, tidak panas dan tidak sejuk (sederhana), tidak menakutkan dan tidak menjemukan. Wanita kelima berkata: Suamiku, ketika memasuki rumah seperti seekor harimau bintang (kerana banyak tidur dan malas bertanya), tetapi apabila beliau keluar seperti seekor singa. Beliau tidak akan bertanya perkara-perkara yang bukan urusannya. Wanita keenam berkata: Suamiku apabila makan, beliau akan menghabiskan makanannya. Sekiranya beliau minum, beliau akan menghabiskan minumannya. Sekiranya beliau tidur, beliau akan berselimut dan tidak memasukkan telapak tangannya kerana beliau tahu akan kesusahannya. Wanita ketujuh berkata: Suamiku adalah seorang yang lemah syahwat. Walaupun telah berubat tetapi belum juga sembuh. Di samping itu beliau mudah menjatuhkan tangannya. Wanita kelapan berkata: Suamiku berbau seperti bau Zarnab (sejenis bauan) dan sentuhannya selembut sentuhan seekor arnab. Wanita kesembilan berkata: Suamiku berkedudukan tinggi, seorang yang berjaya, dermawan dan rumahnya berhampiran dengan tempat permainan. Wanita kesepuluh berkata: Suamiku seorang pembesar dan banyak memiliki harta, sebahagian dari hartanya, beliau memiliki banyak unta. Sebahagian besar unta-untanya pula dibiarkan di halaman rumah, kerana itulah untanya yang hamil sedikit sahaja. Sekiranya unta-unta itu mendengar tiupan seruling mereka mengetahui bahawa mereka akan disembelih. Wanita kesebelas berkata: Suamiku bernama Abu Zar'in. Tahukah kamu siapakah Abu Zar'in? Beliaulah yang memberikan aku anting-anting pada sepasang telingaku. Beliaulah yang memberiku makanan-makanan berzat sehingga aku kelihatan sihat. beliau suka memuji aku, beliau mengambil aku dari keluarga susah dan menjadikan aku salah seorang anggota keluarga yang kaya. Beliau tidak pernah mencaci aku, sehinggakan aku dapat tidur dengan nyenyak sampai ke pagi dan aku dapat minum dengan tenang. Selepas itu bagaimana pula Ummu Abu Zar'in. Tahukah kamu siapa Ummu Abu Zar'in? Beliau memiliki harta simpanan dan rumahnya sangat luas. Maka bagaimana pula Ibnu Abu Zar'in. Tahukah kamu siapakah Ibnu Abu Zar'in. Tempat tidurnya seperti pelepah tamar. Beliau merasa kenyang dengan makan sebelah kaki kambing. Maka bagaimana pula Anak perempuan Abu Zar'in. Tahukah kamu siapakah anak perempuan Abu Zar'in beliau sangat mentaati kedua orang tuanya. Tubuhnya montel dan sering menasihati jirannya. Maka bagaimana pula Jariah Abu Zar'in, tahukah kamu siapakah Jariah Abu Zar'in? Beliau tidak pernah menyebarkan rahsia kami dan sangat jujur sekalipun dalam soal makanan. Beliau Tidak pernah membiarkan rumahku kotor. Setelah itu beliau berkata: Satu hari Abu Zar'in keluar dengan membawa satu bekas daripada kulit yang diisi dengan susu. Beliau bertemu dengan seorang wanita yang mempunyai dua orang anak. Kedua anaknya itu seperti dua ekor harimau kumbang. Mereka bermain dengan dua biji buah delima di bawah pinggang ibunya. Maka beliau menceraikan aku dan mengahwini wanita itu. Setelah itu aku berkahwin dengan seorang lelaki yang baik dan kaya. Tunggangannya adalah seekor kuda terpilih. Beliau membawa aku ke kandang yang penuh dengan binatang ternakan. Kemudian dia berkata: Makanlah wahai Ummu Zar'in dan berehatlah supaya hilang penat lelah. Beliau berkata: Sekiranya aku kumpulkan pemberiannya dengan pemberian Abu Zar'in, nescaya pemberiannya tidak akan sama dengan pemberian Abu Zar'in yang paling sedikit. Aisyah r.a berkata: Rasulullah s.a.w bersabda kepadaku: Perhubungan aku denganmu seperti Abu Zar'in dengan Ummu Zar'in

Nombor Hadis Dalam Sahih Muslim [Dalam Bahasa Arab sahaja]: 4481

Sunday, December 27, 2009

Gula-gula politik~



Sekali sekala, terasa lucu dengan tingkah laku sesetengah individu, mempergandakan propaganda, namun propaganda penipuan itu tetap dapat dibaca. Bak kata perpatah melayu, baling batu sorok tangan, bila orang dibaling batu datang, si pembaling pun berkata:" Bukan aku yang baling batu itu!" ...padahal si mangsa tadi belum pun bertanya:" siapa yang buat?" Kalau orang yang waras, sudah mengetahui, itu kerja siapa. Itulah gula-gula politik. Dengan media pemutar belit, penipu, menggula-gulakan pemikiran orang-orang yang tak mahu berfikir.Berlua-luasalah penipuan yang tak matang.Boleh dikategorikan "kurang genius". Sedangkan anak-anak kecil pun pandai berfikir.

Permainan politik "Geng-geng makan duit haram" semakin hari semakin kelihatan bodohnya. Kenapa bermain politik seperti orang pra-matang? Ketahuilah "geng-geng makan duit haram" ini adalah geng-geng yang hanya ceduk ilmu di tepi jalan. Bukannya menuntut ilmu untuk memajukan bangsa dengan seikhlas hati. Sebab itulah sandiwara permainan politik mereka kelihatan umpama cacing panas tak keruan. Sekali-sekala seperti "hangat-hangat taik ayam". Kejap dengan isu itu, kejap dengan isu ini. Nak katakan berbentuk ilmiah, tak juga, pasal isu yang dibangkitkan isu remeh temeh. Walhal, mereka itulah pak turut pak turut syaitan laknatullah. Cintakan duit, cintakan maksiat. Katanya untuk bangsa, tapi sebenarnya untuk perut sendiri. Lihat sahaja dah bertahun lama memerintah, konon-kononnya itulah pembangunan yang diberi, walhal itu adalah separa darinya. Hasilnya 50%, 50% lagi masuk dalam kocek. Sebab itu, banyak kerahsian. Kalau-kalau bersuara, ada yang datang membunuh. Paling tidak, masuk penjara. Tapi, mereka sudah lupa....

mereka sudah lupa....

Pasti satu hari nanti, mulut-mulut mereka yang busuk itu, bila berbicara orang terhidu jua. Namun, paling wajar diperingatkan adalah, DUNIA INI MILIK ALLAH. Bukan semudah itu mereka menipu, wal hal, ada MATA yang memerhati.

Sudah-sudahlah dengan propaganda palsu itu....
Kita pasti akan kembali kepadanya, lihatlah jani ALLAH dalam surah Yassin
Surah Yassin ayat ke 83 yang bermaksud:
"Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan."

Bercakaplah BENAR!!!!

Surah An Nisa' ayat ke 9:
"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. "

Tuesday, December 8, 2009

Titipan sejarah 1999



Titipan sejarah 1999, “Black Malaysia” kata setengah pihak. Adalah cacatan sejarah dimana, berlakunya peristiwa pemecatan Dato’ Seri Anwar Ibrahim sebagai Timbalan Perdana Menteri.

Untuk lebih memahami apa sebenarnya terjadi masa itu, saya pun membaca buku bertajuk, "Anwar, skandal seks atau konspirasi Politik", tulisan Ketua Pengarang Kumpulan harakah, Ahmad Lutfi Othman yang diterbitkan pada 1999.
Di dalam buku tersebut, banyak menceritakan tentang tuduhan serta disertai sanggahan dan beberapa bukti yang menunjukkan tuduhan tersebut adalah tidak benar belaka. Dan pada tahun 2008 sendiri, kita menyaksikan bahawa Dato’ Seri Anwar Ibrahim sendiri dibebaskan dari segala tuduhan palsu yang telah dibuat.


Namun, apa yang hendak ditekankan adalah permainan politik tidaklah semudah disangka. Setiap penipuan memerlukan satu gagasan konspirasi yang kuat dan kukuh. Jika mangsanya hanyalah seorang, dan tidak mempunyai kadar sokongan yang padu dari segelintir yang berpengaruh, belum tentu akan Berjaya. Namun apa silapnya Dato’ Seri Anwar ketika itu? Jawapan nya sudah pun dinyatakan pelbagai pihak. Mungkin, sahabat-sahabiah boleh sahaja merujuk pada buku bertajuk “SHIT” yang ditulis oleh Prof Dr Dato’ Hj Shanon Ahmad. Buku yang penuh dengan kontraktiviti, menunjukkan permainan politik itu umpama “ lubang keramat” yang kotor dan jijik. Kemahuan untuk bersama “politik kotor” itu perlulah mempunyai satu kelengkapan Pembersih yang lengkap. Untuk membersih korupsi yang menjijikan, tidak mampu dicuci secara berkala secara berseorangan, namun perlu dibersih secara besar-besaran yakni satu gagasan yang berkesefahaman. Kerana rata-rata tahi-tahi itu mempunyai kadar bakteria yang pesat membanyak yang bila mana menjangkit, menyebabkan kerosakan pada minda, pada tubuh badan dan boleh jadi keseluruhan sistem. Dalam novel “Shit” menyatakan lebih kurang bermaksud, “kalau mahu masuk lubang tahi, tanpa mampu lagi mengelak dari terpalit dengan tahi-tahi yang mengotorkan. Sekali terpalit, pasti ada palitan yang kedua, dan lama kelamaan seluruh tubuh kotor dengan tahi”. Lubang Keramat itu tidak pasti nya bersih. Tidak ada hero dalam gerakan.
Peringatan buat kita bersama yang berada jalan ALLAH.
Mahu tidak mahu, perkasakanlah Saff Jemaah. Seperti yang difirmankan oleh ALLAH dalam surah As Shaff yang bermaksud
“ Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kukuh.”

Monday, November 23, 2009

Perihal Beberapa perkara sehingga beberapa perkara



Perihal beberapa perkara sehingga beberapa perkara

Penduduk dunia semakin konsisten membangunkan struktur kemudahan, mempertingkatkan teknologi serta menaik taraf kehidupan, dan sehinggalah kesemua perkara yang menampung asas kehidupan seharian. Hari demi hari, mereka bertungkus lumus untuk memajukan ummah.Ada yang menyumbang pada kemajuan struktur kemudahan, ada yang menyumbang pada pembangunan spiritual, ada juga yang menyumbang dari sudut pengurusan dan sebagainya. Namun, dalam kesibukan seharian itu, tetap ada manusia yang masih berseronok dengan menindas yang lain demi kepentingan individu. Penindasan-penindasan bukan hanya berbentuk fizikal, ada juga penindasan psikologi dan macam-macam jenis penindasan. Yang mana kebebasan yang sebelum itu menjadi laungan sahaja. Nadanya pelbagai bentuk, kadang-kadang dalam bentuk imperialisma , kadang-kadang dalam bentuk kapitalisma, kadang-kadang berbentuk tersembunyi yakni politik.

Namun, tak ramai yang mampu menghidu bau-bauan najis yang terkabur dalam permainan politik ini. Hanya mereka yang mampu berfikir secara kritikal mampu mentakrif dan mendefinasikan permainan Politik. Tipu helah mainan politik itu begitu rapi, silap langkah, tergadai tanah-tanah pusaka. Hilang duit tabungan. Hilang mata pencarian. Hilang kebebasan yang dilaung-laungkan. Boleh jadi maruah pun tergadai.Dengan itu,ia akan terus menjadi boneka-boneka untuk menyuap mulut-mulut busuk si pemain politik itu kerana gagal mendefinasikan permainan politik itu akibat ketidakpeduli mereka terhadap ilmu politik. Dengan itu perlulah diubah sebelum barah berakar dan terus beranak pinak, lama kelamaan, bangsa yang megah akan tergadai kerana tidak mampu mentafsirkan komplot jahat itu.

Sifat yang mengabaikan politik adalah satu sifat yang perlu disanggah. Kerana sifat inilah, menyebabkan beberapa kelompok manusia berkuasa dan mengambil kesempatan terhadap masyarakat. Hingga, masyarakat it uterus diper”anjing”kan. Memperbodohkan lagi memper”hamba”kan. Namun, perlu juga kita melihat satu elemen. Yakni,Apa yang menyebab mereka mengabaikan politik?Doktrin apa yang digunakan oleh mereka. Melalui satu teori protocol zionis. Pihak zionis, mahu orang-orang Islam untuk mengabaikan kepimpinan. Lantas mereka pun mengeluarkan slogan-slogan yang kelihatan logical pada pemikiran anak-anak muda. Yakni:

“Politik itu Kotor”

“Politik itu penuh dengan penipuan”

Dengan slogan itu juga, mereka memaparkan fakta-fakta yang jelas, tentang korupsi yang diamalkan oleh Politikus-politikus. Hingga mata pembaca terbeliak dan mempercayai Politik itu adalah KOTOR dan JIJIK.

Namun, jika kita lihat sebenar-benar definasi Politik ia cukup berbeza dengan apa yang dilaungkan.

Ini definasi politik dalam bahasa Inggeris:

“Politics is a process by which groups of people are solving problems of the society and where politicans make decisions”

Kematangan untuk memahami Politik bukanlah didasari dengan pengalaman dan pemikiran sendiri dan bukanlah dengan melihat apa yang Politikus-politikus itu implementasikan. Mereka itu hanyalah manusia. Yang selalu silap dan salah. Bukan kerana Politik itu mereka terjebak dengan najis Rasuah dan penyalahan Kuasa. Tapi atas sikap mereka yang tidak pernah mahu untuk berubah. Maka itu kita perlu untuk terjun di medan ini untuk lebih memahami apa itu Politik. Perlu juga terhadap pembacaan. Perlu juga dengan tindakan yang membolehkan perubahan terhadap keputusan sesuatu itu. Sebab itu, untuk lebih matang dalam politik, Al Quran itu tidak seharusnya di abaikan. Begitu juga dengan Sirah Nabawi (hadith)yang tidak boleh sesekali diabaikan. Kerana ia adalah mahkota kepada raja Politik, yang Berjaya mengubah kaum yang Bongkak lagi angkuh, yang rakus lagi keji, yang Kejam lagi zalim, kepada kaum yang paling berwawasan, yang beriltizam untuk membangunkan ketamdunan Ummah. Bukan mudah untuk mengubah pemikiran satu kaum. Apatah lagi pemikiran seorang manusia. Al Quran itulah Mukjizat yang paling hebat diturunkan oleh ALLAH untuk kaum Muhammad. Namun AS SUnnah itu lah penerangannya. Corak-corak pemikiran yang berpolarisasikan pemikiran Manusia pasti tidak standing dengan corak pemikiran yang berteraskan AL Quran. Bukti sudah jelas. Al Quran membawa kepada perubahan tamadun. Lihat sahaja dimata kita, terpampang. Revolusi Ilmu itu bermula dari Tamadun Islam, Tamadun Al Quran dan As Sunnah.

Namun, pada realitinya, Manusia yang rajin bertungkus lumus untuk mengembangkan Ummah, kebanyakannya masih tidak jelas tentang ISLAM. Ramai yang menganggap Islam itu seperti Adat, bukan cara hidup.Diabaikan mereka perihal apa yang dikatakan Al Quran, diabaikan mereka Sunnah Rasulallah SAW. Maka kucar-kacir yang mereka cetuskan, laksana perbuatan mereka yang tamak lagi haloba. Sanggup memperlekehkan Suruhan Ilahi. Melupakan hakikat kebenaran. Namun, masa kita semakin singkat.Maka itu, pada ALLAH jua kita berserah untuk mencetuskan revolusi ini. Wallahualam.

Saturday, October 24, 2009

Bukalah jendela~



"Bukalah jendela itu! Gelap sungguh ruang tamu ini, biar cahaya masuk.....di ruang tamu ini" bisik ibu kepadaku....

Kata-kata itu menyentah lembayung hatiku kerana kata-kata yang penuh tersirat...tahukah maksud disebalik ayat ini? Hati kita ini umpama jendela. Hati Ialah pintu segala-galanya. Andai hati ini dibiar terkatup. Tak mahu menerima. Ia pasti akan gelap dan kelam. Namun, berhati-hatilah. Andai asap kotoran mencemari ruang luar, kita buka jendela. Pasti habuk-habuk dan kotoran hinggap ke ruang tamu. Sebab itu, hati perlu dibuka pabila kita merasakan selamat untuk dibuka. Andaikata tersilap. Ruang tamu itu pasti tercemar dengan kekotoran.

Ayuh, mari kita melihat sisi pandang kata-kata Al-Bukhturi. Menurut Al-Bukhturi: Hati yang berkilau dan semangat yang bergelora. Ia menyebutnya dalam ungkapan, "nafsun tadhi‘ wa himmah tatawaqqad" (Diwan al Bukhturi 1/269). Hati yang berkilau adalah kiasan dari niat yang bersih dari beban noda dan kotoran. Niat yang bersih dari hawa nafsu, ambisi dan kepentingan pribadi, apapun bentuknya.

Dan itulah yang menjadi pegangan kepada Seorang khalifah yang agung, Umar Abdul Aziz.
bin Abdul Malik menggambarkan hal itu dalam ungkapannya, "Aku tak mendapati Umar melangkah, satu langkah sekalipun, kecuali Umar telah meneguhkan niatnya." (Sirah Umar, Ibnu Abdil Hakam, 30/29)

Sabda Rasulallah SAW:

“Bahawasanya segala amal itu disertakan dan setiap orang akan mendapat balasan sesuai dengan niatnya”. (Hadis Riwayat al-Bukhari, Muslim dan lain-lain)

Hati yang bersih sentiasa berniat kepada Kebaikan. Niat yang baik itu membawa kepada ketenangan, membawa kepada kejayaan dan membawa kepada Keasyikan dalam menunaikan peranan sebagai hamba ALLAH(pengertian Hidup yang penuh bermakna).

Namun, tak ramai mampu membuka jendela hatinya kerana kebaikan. Apa puncanya? Puncanya adalah apabila hati telah "lalai" "alpa" "cuai" dan sentiasa mengimpikan "keduniaan" yang tidak ada nilainya di sisi ALLAH. Namun, perkara itu tidak seharusnya diperbanggakan. Tidak ada yang perlu dibanggakan, kerana hidayah itu hak ALLAH. KepadaNYA kita berserah.

Ayuh, mari kita bersihkan hati kita. Kita niatkan kerana ALLAH, janganlah kita niatkan kerana Dunia yang tak seberapa nilainya. Namun, perkara "niat" ini perlulah kita perdalami sebelum menuju pembersihan. Kerana tanpa mengenali "niat" dan mempelajarinya. Pasti kita tidak tahu pengertian "niat"

Yahya bin Abi Katsir berkata, “Pelajarilah niat, karena niat lebih utama dari amal.” (Kitab Jami’ Al ‘Ulum wa Al Hikam I/34).


Al-Fadhl bin Ziyad berkata, “Aku pernah bertanya kepada Abu Abdullah -yakni Ahmad- tentang niat dalam beramal. Aku bertanya, ‘Apakah niat itu?’ Beliau menjawab, ‘Seseorang mengendalikan dirinya ketika hendak beramal agar tidak menginginkan pujian manusia.’” (Kitab Jami’ Al ‘Ulum Wa Al Hikam I/26).

Mutharrif bin Abdullah berkata, “Baiknya hati karena baiknya amal, dan baiknya amal karena baiknya niat.” (Kitab Jami’ Al ‘Ulum Wa Al Hikam 1/35).


Maka itu, bukakanlah jendela hatimu untuk perbetulkan niat ke arah kehidupan yang sempurna. Andai kau biarkan hatimu terus gelap gelita. Pastinya di suatu sudut itu, tak kelihatan jalan keluarnya. Boleh jadi, kita akan terjatuh dipersimpangan, mahupun sudut yang gelap. Siapa mahu? Takkan ada yang mahu, namun....itulah solusinya.

Bukakanlah jendela hatimu...